1. Guru/mahasiswa calon guru belum mempunyai pengalaman menulis laporan ptk, sehingga ia tidak tau atau bingung harus menulis apa.
Selain itu mereka juga perlu diyakinkan bahwa perbedaan-perbedaan format atau sistematika itu hanyalah bentuk-bentuk variasi saja dari sebuah laporan ptk. Jadi, merekapun sebenarnya bisa menulis laporan ptk sesuai gaya mereka sendiri, yang penting tidak melenceng darikaidah-kaidah penulisan laporan yang baik.
Ketidakberpengalaman guru atau mahasiswa calon guru dalam menulis ptk seringkali tampak dengan jelas pada alur penulisan yang tidak lurus, melenceng, keluar dari jalur, sehingga laporan ptk bahkan kalau dibaca justru membingungkan pembaca. Atau dengan kata singkat: laporan ptk mereka tidak mempunyai benang merah. Biasanya laporan demikian ditulis dengan cara mencomot bagian-bagian tertentu dari beberapa laporan milik orang lain, atau paling tidak mengadaptasi bagian-bagian laporan ptk orang lain tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan apakah bagian itu perlu dan cocok dimasukkan (diadaptasi) untuk laporan ptknya. Untuk mengatasi hal ini, guru atau mahasiswa calon guru tersebut seharusnya mencoba memahami kembali bagaimana struktur sebuah laporan ptk yang baik.
2. Guru/mahasiswa calon guru tidak memiliki kemampuan menuangkan ide-ide yang ada di pikirannya ke dalam bahasa tulisan.
Pertanyaan Untuk Dicermati
- Apakah penelitian dilakukan berdasarkan masalah nyata yang terjadi di dalam kelas?
- Apakah masalah yang diidentifikasidisertai bukti-bukti (data awal) yang jelas atau hanya asumsi saja?
- Apakah penelitian dilakukan di kelas guru itu sendiri?
- Apakah tindakan yang dilakukan logis untuk menyelesaikan masalah?
- Apakah rumusan masalah relevan dengan tujuan penelitian?
- Apakah kajian teoritis (kajian pustaka) yang dicantumkan relevan dengan penelitian yang diangkat?
- Apakah data yang diambil sesuai dengan tujuan penelitian?
- Apakah alat pengambil data (instrumen) telah sesuai dan menjamin kecukupan data yang diperlukan?
- Apakah indikator keberhasilan penelitian sesuai dengan tujuan yang diharapkan?
- Apakah langkah-langkah (tindakan) perbaikan dicantumkan dengan jelas?
- Apakah ada penyempurnaan tindakan dari siklus sebelumnya saat melaksanakan siklus-siklus berikutnya?
- Apakah setiap data telah dianalisis dan dibahas dengan baik?
- Apakah simpulan sesuai dengan tujuan penelitian?
- Apakah simpulan terlalu overgeneralized?
Demikian sederet daftar pertanyaan yang dapat diajukan oleh seorang guru atau mahasiswa calon guru saat menulis laporan ptk (penelitian tindakan kelas). Semoga bermanfaat.
Fungsi Abstrak dalam Laporan PTK
![]() |
| Bagaimana cara menulis abstrak ptk? |
- Menyajikan informasi singkat tentang ptk yang telah anda dilakukan.
- Memberikan kesan pertama setelah pembaca membaca judul (halaman judul) laporan ptk anda.
- Memudahkan pembaca yang sedang mencari informasi tentang sebuah penelitian tindakan kelas, yaitu dengan membaca abstrak mereka hanya membutuhkan waktu yang singkat.
Karaketeristik Abstrak Laporan PTK
Ringkas
Jelas
Berdiri Sendiri
Objektif
Bagian-Bagian Abstrak PTK
- Judu llaporan penelitian tindakan kelas (ptk).
- Nama peneliti (penulis), ditulis tanpa gelar akademis ataupun gelar non akademis.
- Tahun penelitian dan jumlah halaman laporan keseluruhan.
- Identitas singkat (seperti NIP, jabatan, dan asal instansi)
- Isi abstrak yang mencakup: (1) tujuan ptk; (2) metode penelitian; (3) hasil penelitian; (4) simpulan.
- Kata kunci (maksimal terdiri dari 5 kata kunci atau frase kunci yang diurutkan secara alfabetis)
Tata Cara Penulisan Abstrak PTK
Jumlah kata
Jarak spasi dan ukuran font
Gunakan huruf standar sebagaimana isi laporan ptk (misalnya Times New Roman dengan ukuran font 12 pt, atau Calibri ukuran 11 pt).
Berbentuk 1 paragraf yang rata kanan dan kiri (justify)
Ditulis sebelum Kata Pengantar, persis setelah Halaman Judul.
Contoh Abstrak PTK
MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN UNTUK SISWA KELAS VIIIB SMPN NEGERI 4 AMUNTAI MELALUI STRATEGI MEMORY CYCLE
(Tahun 2011, 239 halaman)
Suhadi
Guru IPA SMP Negeri 4 Amuntai
Kabupaten Hulu Sungai Utara Propinsi Kalimantan Selatan
ABSTRAK
Penelitian tindakan kelas secara umum bertujuan penelitian adalah untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran untuk peserta didik Kelas VIIIB SMPN 4
Amuntai. Secara khusus bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan aktivitas
peserta didik; (2) Mendeskripsikan pengelolaan pembelajaran oleh guru;
dan (3) Mengetahui hasil belajar peserta didik yang mengacu pada
strategi memory cycle pada Kelas VIIIB SMPN 4 Amuntai semester ganjil
tahun pelajaran 2011/2012 untuk materi Bahan Kimia dalam Kehidupan
Sehar-hari. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, di mana
masing-masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan, dan refleksi. Siklus I terdiri dari dua pertemuan (dua kali
tatap muka), demikian pula halnya dengan Siklus II. Data aktivitas
peserta didik digali dengan Lembar Pengamatan Aktivitas Peserta Didik,
data Pengelolaan Pembelajaran oleh Guru digali dengan Lembar Pengamatan
Pengelolaan Pembelajaran, sedangkan data hasil belajar peserta didik
digali dengan Tes Hasil Belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1)
Aktivitas peserta didik kelas VIIIB SMP Negeri 4 Amuntai tahun
pembelajaran 2011/2012 pada pembelajaran yang mengacu kepada strategi
memory cycle pada materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari di
siklus I maupun siklus 2 penelitian tindakan kelas ini berada pada
kategori BAIK; (2) Pengelolaan pembelajaran oleh guru di kelas VIIIB SMP
Negeri 4 Amuntai yang tahun pembelajaran 2011/2012 yang telah dilakukan
guru pada materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari dengan
strategi memory cycle di siklus 1 maupun siklus 2 penelitian tindakan
kelas ini juga berada pada kategori BAIK; dan (3) Hasil belajar peserta
didik kelas VIIIB SMP Negeri 4 Amuntai tahun pembelajaran 2011/2012 pada
materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari mengalami peningkatan
dibanding tahun pelajaran 2010/2011 setelah menggunakan strategi memory
cycle.
Kata Kunci : bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari, kualitas pembelajaran, penelitian tindakan kelas, strategi memory cycle
|
Langkah-Langkah Menulis PTK
Pengembangan Gagasan
Merencanakan Naskah
Mengembangkan paragraf dan penulisan draft
Meminta masukan teman sejawat
Memperbaiki draft
Sentuhan akhir
Pada sebuah proposal atau laporan PTK kita dapat memasukkan subbab
Kerangka Berpikir. Biasanya subbab ini diletakkan pada bagian akhir bab
II (Kajian Teori / Tinjauan Pustaka). Pertanyaannya sekarang: Bagaimana
cara menyusun / menuliskannya pada proposal PTK atau laporan PTK anda?
Kerangka berpikir adalah alur berpikir yang disusun secara singkat untuk menjelaskan bagaimana sebuah penelitian tindakan kelas dilakukan dari awal , proses pelaksanaan, hingga akhir. Kerangka berpikir dapat disusun dalam bentuk kalimat-kalimat atau digambarkan sebagai sebuah diagram. Berikut ini akan disampaikan langkah-langkah praktis bagaimana menulis Kerangka Berpikir pada sebuah proposal atau laporan penelitian tindakan kelas (PTK). Mari disimak.
Cara Menulis Kerangka Berpikir dalam bentuk Rumusan Kalimat-Kalimat
- Rumuskan kondisi saat ini (sebelum PTK dilaksanakan), secara singkat.
- Rumuskan tindakan yang akan dilakukan, secara singkat.
- Rumuskan hasil akhir yang anda harapkan, juga secara singkat.
- Susun ketiga komponen di atas dalam sebuah paragraf yang padu.
Perhatikan contoh berikut:
Cara Menulis Kerangka Berpikir dalam Bentuk Diagram
- Rumuskan kondisi saat ini (sebelum PTK dilaksanakan), dalam bentuk poin-poin penting dengan singkat.
- Rumuskan poin-poin penting tindakan yang akan dilakukan, secara singkat.
- Rumuskan poin-poin hasil akhir yang anda harapkan, juga secara singkat.
- Rancang sebuah diagram yang memuat poin-poin tersebut dengan alur yang rasional dan jelas.
Perhatikan contoh berikut:
![]() |
| Contoh Diagram Kerangka Berpikir pada Sebuah Proposal atau Laporan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) |
Catatan:
Penelitian tindakan kelas ini adalah PTK kolaboratif antara seorang peneliti dengan guru PKn
Contoh ini diadaptasi dari buku Manajemen Penelitian Tindakan Kelas (Sukidin, Basrowi, Suranto) yang diterbitkan oleh Insan Cendekia pada tahun 2008.
Demikian tulisan terbaru blog penelitian tindakan kelas tentang Cara Menulis Kerangka Berpikir pada Proposal atau laporan PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Semoga bermanfaat. Salam.
Lembar Observasi PTK Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Sintaks Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guided Discovery)
Tahap 1. Pendahuluan (Orientasi siswa pada masalah).
Tahap 2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar.
Tahap 3. Memberi bantuan dalam penyelidikan secara mandiri atau kelompok bersama.
Tahap 4. Mengembangkan dan mempresentasikan hasil kegiatan.
Tahap 5. Penutup (Mengevaluasi kegiatan penyelidikan/pengamatan dan membuat rangkuman).
Lembar Observasi
Nah, dari kajian tentang sintaks pembelajaran dengan penemuan terbimbing itu kita dapat membuat Lembar Observasi Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran Penemuan Terbimbing, caranya dengan menjadikan langkah-langkah tersebut, beserta sub-sub langkah menjadi aspek-aspek yang diamati/diobservasi. Hasil akhirnya..... Lembar Observasi Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran Penemuan Terbimbing akan menjadi seperti gambar ini.
![]() |
| Contoh Lembar Observasi Pengelolaan Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guided Discovery) |
Untuk lebih jelasnya, anda dapat mendownload Lembar Observasi Pengelolaan Pembelajaran Penemuan Terbimbing ini dengan mengklik link yang disediakan. Selain itu kami tambahkan pula Contoh Lembar Observasi Aktivitas Siswa pada Pembelajaran Penemuan Terbimbing. Semoga tulisan kali ini dapat bermanfaat bagi anda yang sedang melakukan penelitian tindakan kelas (ptk) tentang pembelajaran penemuan terbimbing.
Lembar Observasi PTK dan Orisinalitas Karya Tulis
Jadi, sebaiknya kami menyarankan guru yang sedang melakukan ptk mengembangkan sendiri instrumen penelitian yang dibutuhkannya, termasuk lembar observasi ptk-nya. Mengembangkan sendiri lembar observasi ptk itu gampang-gampang susah. Gampang kalau kita memahami teknik pembuatannya dan memahami apa yang sedang / ingin kita teliti. Saya yakin, jika anda berkeinginan meneliti suatu hal lewat ptk, anda pasti telah mencoba memahami kedua hal tersebut di atas yang merupakan prasyarat anda dapat mengembangkan sebuah lembar observasi ptk.
Membuat Lembar Observasi PTK Itu Mudah
Baiklah,untuk lebih meyakinkan anda bahwa mengembangkan lembar observasi ptk itu gampang, berikut kami beri contoh sebuah lembar observasi ptk dan bagaimana lembar observasi ptk itu dikembangkan. Yuk simak. Anggaplah kita sudah punya teori/kepustakaan yang diperlukan untuk mengembangkan sebuah lembar observasi ptk tentang model pembelajaran problem posing pada mata pelajaran matematika, seperti berikut.
Teori tentang Model Pembelajaran Problem Posing dalam Matematika
Model pembelajaran problem posing dapat didefinisikan sebagai model pembelajaran di mana siswa berperan aktif dalam pengajuan soal atau pengajuan masalah (berlatih soal) secara mandiri.
Beberapa kekuatan model pembelajaran problem posing adalah: (1) siswa akan mempunyai kemampuan memecahkan masalah dengan mengusahakan berbagai jalan dengan latihan yang mereka lakukan; (2) terampil menyelesaikan soal-soal terkait materi yang sedang dibelajarkan; (3) guru dapat mengetahui bagaimana proses siswa menyelesaikan masalah; (4) meningkatkan keterampilan pengajuan masalah (soal) oleh siswa; (5) menumbuhkan minat siswa terhadap pembelajaran matematika; (6) memunculkan perasaan puas ketika suatu kelompok mampu membuat soal dan menyelesaikannya, tetapi kelompok lain tidak sanggup menyelesaikannya, ini akan mendorong pula kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Beberapa kelemahan model pembelajaran problem posing misalnya diperlukan banyak sumber untuk pembuatan soal (pengajuan masalah) bagi setiap kelompok yang berimplikasi diperlukannya buku-buku teks yang relevan untuk semua siswa.
Sintaks Model Pembelajaran Problem Posing:
- Guru menjelaskan materi pembelajaran kepada siswa
- Guru memberikan latihan soal secukupnya
- Guru membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen terdiri atas 4 – 5 orang siswa
- Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal berdasarkan informasi (penjelasan) yang telah diberikan guru dan siswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikan soal-soal tersebut
- Soal-soal tersebut diserahkan kepada kelompok lain untuk dikerjakan (setiap kelompok mendapat soal-soal yang diajukan oleh kelompok lain)
- Guru memberikan tugas rumah secara individual sebagai penguatan
Langkah berikutnya adalah memasukkan poin-poin penting itu dalam lembar observasi ptk yang kita kembangkan, misalnya kita ingin membuat lembar observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika menggunakan model problem posing, maka hasil pengembangannya adalah:
| Aktivitas Siswa Secara Umum: 1. menunjukkan berbagai strategi memecahkan masalah / soal 2. terampil menyelesaikan soal-soal yang diberikan 3. menunjukkan proses yang efisien dalam menyelesaikan masalah / soal 4. menunjukkan antusiasme / minat terhadap kegiatan pembelajaran dengan pengajuan masalah / soal Aktivitas siswa secara khusus: 1. memperhatikan penjelasan guru terkait materi pelajaran pada sesi awal pembelajaran 2. mengerjakan latihan soal yang diberikan oleh guru pada sesi awal pembelajaran 3. bekerja dalam kelompok untuk membuat soal / pengajuan masalah 4. bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan soal yang dibuat oleh kelompoknya sendiri 5. mengajukan soal / masalah kepada kelompok lain 6. bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan soal / masalah yang diajukan oleh kelompok lain 7. menyelesaikan soal-soal penguatan dari guru secara individual |
Nah, dari hasil pengembangan poin-poin penting terkait aktivitas siswa pada model pembelajaran problem posing untuk mata pelajaran matematika di atas, maka kita tinggal menambahkan atribut-atribut lain untuk melengkapinya sebagai sebuah instrumen penggali data, dalam hal ini lembar observasi ptk (penelitian tindakan kelas) untuk mengamati aktivitas siswa. Atribut-atribut lain yang ditambahkan misalnya identitas penelitian meliputi kelas, nama guru, hari/tanggal, sekolah, pertemuan ke, dan siklus ke, juga dapat ditambahkan dengan petunjuk penggunaan untuk observer, pedoman penskoran, dan tanda tangan observer. Berikut hasil akhirnya:
Contoh Lembar Obsevasi Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Problem Posing
Kelas :
Nama Guru :
Hari/tanggal:
Sekolah :
Pertemuan ke- :
Siklus ke- :
Petunjuk:
Observer aktivitas siswa dalam pembelajaran problem posing duduk di tempat yang strategis, yang memudahkan observasi dan tidak mengganggu jalannya pembelajaran. Observer mengisi kolom penskoran sesuai pedoman penskoran yang diberikan di bawah tabel dengan memberi tanda cek (v).Aktivitas siswa secara umum:
| No. | Aktivitas Siswa | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
| A | Umum | --- | --- | --- | --- | --- |
| 1. | menunjukkan berbagai strategi memecahkan masalah / soal | - | - | - | - | - |
| 2. | terampil menyelesaikan soal-soal yang diberikan | - | - | - | - | - |
| 3. | menunjukkan proses yang efisien dalam menyelesaikan masalah / soal | - | - | - | - | - |
| 4. | menunjukkan antusiasme / minat terhadap kegiatan pembelajaran dengan pengajuan masalah / soal | - | - | - | - | - |
| B. | Khusus | - | - | - | - | - |
| 1. | memperhatikan penjelasan guru terkait materi pelajaran pada sesi awal pembelajaran | - | - | - | - | - |
| 2. | mengerjakan latihan soal yang diberikan oleh guru pada sesi awal pembelajaran | - | - | - | - | - |
| 3. | bekerja dalam kelompok untuk membuat soal / pengajuan masalah | - | - | - | - | - |
| 4. | bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan soal yang dibuat oleh kelompoknya sendiri | - | - | - | - | - |
| 5. | mengajukan soal / masalah kepada kelompok lain | - | - | - | - | - |
| 6. | bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan soal / masalah yang diajukan oleh kelompok lain | - | - | - | - | - |
| 7. | menyelesaikan soal-soal penguatan dari guru secara individual | - | - | - | - | - |
Pedoman Penskoran:
1 = sangat kurang
2 = kurang
3 = cukup
4 = baik
5 = sangat baik
===*** ==
Nah, gampang bukan?
Kita mungkin sudah sering mendengar kata penelitian, yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris : Research.
Bagi sebagian mahasiswa, terutama mereka yang mengambil program
sarjana, penelitian merupakan kegiatan puncak dari studi. Para mahasiswa
dituntut untuk mengembangkan wawasannya dengan cara melakukan pencarian
atau eksplorasi untuk menemukan jawaban dari masalah yang menjadi
bidang kajiannya. Untuk melakukan kegiatan tersebut ada seperangkat
aturan dan langkah-langkah yang harus diikuti yang biasa sebut metode penelitian.
Bertitik tolak dari pengertian di atas, Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
merupakan suatu penelitian juga yang biasa dikerjakan oleh seorang Guru,
salah satunya adalah Guru SD yang mempunyai berbagai aturan dan
langkah-langkah yang harus diikuti. Penelitian Tindakan Kelas merupakan
terjemahan dari
Classroom Action Research, yaitu satu Action Research yang dilakukan di kelas.
Makna Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dari
segi semantik (arti kata) Action Research diterjemahkan menjadi penelitian tindakan yang oleh Carr dan Kemmis (McNiff, 1991, p.2) didefinisikan sebagai berikut :
"Action research is a form of
self-reflective enquiry undertaken by participants (Teachers, students
or principals, for example) in social (including educational) situations
in order to improve the rationality and justice of (1) their own social
or educational pratices, (2) their understanding of these practices,
and (3) the situations (and institutioans) in which the practices are
carried out"
yang jika kita cermati seksama ada sejumlah ide pokok antara lain :
- Penelitian tindakan adalah satu bentuk inquiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri.
- Penelitian tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti Guru, siswa atau Kepala sekolah.
- Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan.
- Tujuan penelitian tindakan adalah memperbaiki : dasar pemikiran dan kepantasan dari praktik-praktik, pemahaman terhadap praktik tersbut, serta situasi atau lembaga tempat praktik tersebut dilaksanakan.
Manfaat PTK bagi guru adalah :
- Membantu guru memperbaiki pembelajaran.
- Membantu guru berkembang secara profesional.
- Meningkatkan rasa percaya diri seorang Guru.
- Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan.
Manfaat PTK bagi sekolah yaitu untuk membantu sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan/kemajuan pada diri guru dan pendidikan di sekolah tersebut.
Disamping manfaat, PTK mempunyai keterbatasan, yaitu validitasnya yang sering masih dipertanyakan, serta tidak mungkin melakukan generalisasi karena sampelnya hanya kelas dari guru yang berperan sebagai pengajar dan peneliti. PTK memerlukan berbagai kondisi agar dapat berlangsung dengan baik dan melembaga. Kondisi tersebut antara lain dukungan dari semua personil di sekolah, iklim yang terbuka yang memberikan kebebasan kepada guru untuk berinovasi, berdiskusi, berkolaborasi, dan saling percaya antara guru dan siswa.
- Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran disekolah
- Membantu guru dan tenaga kekependidikan lainnya mengatasai masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam kelas.
- Meningkatkan sikap professional pendidik dan tenaga kependidikan
- Menumbuh-kembangkan budaya akademik dilingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjuta (sustainable)
- Tujuan utama pertama, melakukan perbaikan dan peningkatan layanan professional Guru dalam menangani proses pembelajaran. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis kondisi, kemudian mencoba secara sistematis berbagai model pembelajaran alternatif yang diyakini secara teoretis dan praktis dapat memecahkan masalah pembelajaran. Dengan kata lain, guru melakukan perencanaan, melaksanakan tindakan, melakukan evaluasi, dan refleksi.
- Tujuan utama kedua, melakukan pengembangan keteranpilan Guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai persoalan aktual yang dihadapinya terkait dengan pembelajaran. Tujuan ini dilandasi oleh tiga hal penting, (1) kebutuhan pelaksanaan tumbuh dari Guru sendiri, bukan karena ditugaskan oleh kepala sekolah, (2) proses latihan terjadi secara hand-on dan mind-on, tidak dalam situasi artifisial, (3) produknyas adalah sebuah nilai, karena keilmiahan segi pelaksanaan akan didukung oleh lingkungan.
- Tujuan sertaan, menumbuh kembangkan budaya meneliti di kalangan Guru.
- Meningkatkan dan memperbaiki praktek pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru, mengingat masyarakat kita berkembang begitu cepat. Hal ini akan berakibat terhadap meningkatnya tuntutan layanan pendidikan yang harus dilakukan oleh guru. PTK merupakan cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan atau memperbaiki layanan tersebut.
- Meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan atau perbaikan praktek pembelajaran di kelas hanya tujuan antara, sedangkan tujuan akhir adalah peningkatan mutu pendidikan. Misal, terjadi peningkatan motivasi siswa dalam belajar, meningkatnya sikap positif siswa terhadap mata pelajaran, bertambahnya keterampilan yang dikuasai, adalah merupakan beberapa contoh dari tujuan antara sebagai hasil jangka pendek dari peningkatan praktek pembelajaran di kelas. Sasaran akhirnya adalah meningkatnya mutu pendidikan.
- Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif untuk memperbaiki pembelajaran, berdasar pada persoalan-persoalan pembelajaran yang dihadapi guru di kelas.
- Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
- Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
- Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
- Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan/pembelajaran secara berkelanjutan.
- Guru adalah orang yang paling dekat dan paling akrab dengan kelas. Paling karab karena gurulah yang setiap hari melaksanakan proses pembelajaran di kelas
- Guru memiliki otonomi untuk menilai kinerjanya sendiri.
- Interaksi guru dan siswa berlangsung secara unik. Dikatakan unik karena ketika siswa berinteraksi dengan guru tidak akan sama dengan ketika siswa berinteraksi dengan personal sekolah lainnya.
- Temuan-temuan penelitian yang bukan penelitian tindakan kelas tidak jarang sulit bisa langsung diterapkan untuk proses perbaikan pembelajaran. Kadang-kadang temuan penelitian itu terlalu teoritik atau terlalu rumit sehingga guru harus belajar terlebih dahulu atau dilatih terlebih dahulu untuk bisa menerapkan dalam proses pembelajaran di kelas.
- Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan inovatif yang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru untuk mampu melakukan penelitian tindakan kelas.
- Mohommad Ashori (2007), Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : CV Wacana Prima.
- Suyanto. 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pengenalan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Dirjen Dikti
- Borg, W.R. Gall,M.D(1997). Education Research. New York : Longman.
- Suhardjono (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara
- Kasbolah, Kasihani. (1991). Penelitian Tindakan Kelas: Guru sebagai Peneliti. Makalah disajikan dalam Lokakarya PTK Bagi Guru SLTP, MTs, SMU, MA dan SMK se-Kodya Malang. Malang: IKIP.
- I Wayan Santyasa (2007). Makalah : Metodologi Penelitian Tindakan Kelas. Disajikan dalam Workshop tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi Para Guru SMP 2 dan 5 Nusa Penida Klungkung, pada tanggal 30 Nopember s.d 1 Desember 2007 di Nusa Penida. Singajara: UP. Ganesha.
- Ditjen PMPTK.(2010).Membimbing Guru Dalam Penelitian Tindakan Kelas Materi Pelatihan Penguatan Pengawas Sekolah. Jakarta : Kemendiknas.



