twitter
rss

Tampilkan postingan dengan label Penelitian Tindakan Kelas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian Tindakan Kelas. Tampilkan semua postingan

Judul PTK merupakan gambaran apa yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK).
Judul hendaknya ditulis secara singkat dan spesifik. Hal yang harus ada dalam penulisan judul adalah gambaran dari apa yang dipermasalahkan. Umumnya di bawah judul ditulis pula sub judul .
Sub judul ditulis untuk menambahkan keterangan lebih rinci tentang populasi, misalnya di mana penelitian dilakukan, kapan, di kelas berapa, tahun ajaran diadakan penelitian. Berikut beberapa contoh judul PTK, yang dapat bapak, ibu guru jadikan acuan atau bagi siapa saja yang hendak melakukan penelitian.
1.       Meningkatkan Hasil Belajar Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Mata Pelajaran X (*)
2.       Peningkatan Kreativitas Siswa Dalam Proses Belajar Mata Pelajaran X Melalui Penerapan Model Pembelajaran Generatif
3.       Penerapan Pembelajaran Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Mata Pelajaran X
4.       Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Pada Mata Pelajaran X Melalui Penerapan Cooperative Learning.
5.       Pembelajaran Berbasis Kontruktivisme Dan Kontekstual Pada Mata Pelajaran Xuntuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Pemahaman Konsep.
6.       Penggunaan Model Pembelajaran Learning Cycle Untuk Meningkatkan Ketrampilan Siswa Pada Mata Pelaran X.
7.       Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Memecahkan Masalah Pada Mata Pelajaran X Dengan Penggunaan Model Pembelajaran Inkuiri.
8.       Pembelajaran Dengan Model Realistic Mathematical Education Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Matematika.
Itulah Beberapa Contoh Judul PTK, Yang Dapat  Sebagai Referensi Pembuatan PTK.
(*) Umumnya juga disertai subjudul yang menunjukan secara lebih rinci populasi penelitian, seperti dikelas  berapa, tahun berapa, di sekolah mana, dan lain-lain.

1. Guru/mahasiswa calon guru belum mempunyai pengalaman menulis laporan ptk, sehingga ia tidak tau atau bingung harus menulis apa.

Mereka, dengan keterbatasan pengalaman (katakanlah baru menulis untuk pertama kali), tentu belum mempunyai rasa percaya diri. Apalagi bila mereka menemukan bahwa format dan sistematika laporan ptk seringkali memilikiperbedaan-perbedaan (selingkung). Kepada mereka yang berada dalam situasi ini, seyogyanya dapat diberikan motivasi untuk membantu membangun rasa percaya diri pada diri mereka.

Selain itu mereka juga perlu diyakinkan bahwa perbedaan-perbedaan format atau sistematika itu hanyalah bentuk-bentuk variasi saja dari sebuah laporan ptk. Jadi, merekapun sebenarnya bisa menulis laporan ptk sesuai gaya mereka sendiri, yang penting tidak melenceng darikaidah-kaidah penulisan laporan yang baik.
Ketidakberpengalaman guru atau mahasiswa calon guru dalam menulis ptk seringkali tampak dengan jelas pada alur penulisan yang tidak lurus, melenceng, keluar dari jalur, sehingga laporan ptk bahkan kalau dibaca justru membingungkan pembaca. Atau dengan kata singkat: laporan ptk mereka tidak mempunyai benang merah. Biasanya laporan demikian ditulis dengan cara mencomot bagian-bagian tertentu dari beberapa laporan milik orang lain, atau paling tidak mengadaptasi bagian-bagian laporan ptk orang lain tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan apakah bagian itu perlu dan cocok dimasukkan (diadaptasi) untuk laporan ptknya. Untuk mengatasi hal ini, guru atau mahasiswa calon guru tersebut seharusnya mencoba memahami kembali bagaimana struktur sebuah laporan ptk yang baik.

2. Guru/mahasiswa calon guru tidak memiliki kemampuan menuangkan ide-ide yang ada di pikirannya ke dalam bahasa tulisan.

Beberapa guru/ mahasiswa calon guru yang lain sebenarnya sudah memahami apa-apa yang harus dimasukkan sebagai bagian dari laporan ptk mereka, akan tetapi ketidakmampuan mereka dalam menuliskan ide yang ada di pemikiran merekalah yang menjadi penyebab rendahnya mutu laporan ptk yang ditulisnya. Untuk mengatasi hal ini, maka guru atau mahasiswa calon guru yang bersangkutan harus lebih banyak berlatih menulis. Ingat, menulis adalah suatu keterampilan (skill), dan keterampilan apapun termasuk menulis hanya dapat dikuasai dengan baik apabila sering dilatih.

Pertanyaan Untuk Dicermati

Saat menulis sebuah laporan ptk, sebaiknya seorang peneliti kembali mencermati laporannya. Banyak hal yang harus diperhatikan agar laporan ptk yang dihasilkan memiliki nilai dan kualitas yang bagus. Nah, Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat dijadikan panduan untuk mencermati laporan ptk yang telah ditulis untuk melihat adakah kelemahan padanya:
  • Apakah penelitian dilakukan berdasarkan masalah nyata yang terjadi di dalam kelas?
  • Apakah masalah yang diidentifikasidisertai bukti-bukti (data awal) yang jelas atau hanya asumsi saja?
  • Apakah penelitian dilakukan di kelas guru itu sendiri?
  • Apakah tindakan yang dilakukan logis untuk menyelesaikan masalah?
  • Apakah rumusan masalah relevan dengan tujuan penelitian?
  • Apakah kajian teoritis (kajian pustaka) yang dicantumkan relevan dengan penelitian yang diangkat?
  • Apakah data yang diambil sesuai dengan tujuan penelitian?
  • Apakah alat pengambil data (instrumen) telah sesuai dan menjamin kecukupan data yang diperlukan?
  • Apakah indikator keberhasilan penelitian sesuai dengan tujuan yang diharapkan?
  • Apakah langkah-langkah (tindakan) perbaikan dicantumkan dengan jelas?
  • Apakah ada penyempurnaan tindakan dari siklus sebelumnya saat melaksanakan siklus-siklus berikutnya?
  • Apakah setiap data telah dianalisis dan dibahas dengan baik?
  • Apakah simpulan sesuai dengan tujuan penelitian?
  • Apakah simpulan terlalu overgeneralized?

Demikian sederet daftar pertanyaan yang dapat diajukan oleh seorang guru atau mahasiswa calon guru saat menulis laporan ptk (penelitian tindakan kelas). Semoga bermanfaat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, abstrak bermakna : ringkasan inti, ikhtisar, inti (skripsi, laporan, dsb.). Sedangkan menurut Tesaurus Indonesia, abstrak mempunyai padanan kata : ijmal, ikhtisar, inti sari, inti, kerangka, kesimpulan, pati, pokok, rangkuman, resume, ringkasan, rumusan, sari, simpulan, atau sinopsis. Dengan demikian abstrak dapat pula dimaknai sebagai suatu ringkasan yang lengkap yang menjelaskan keseluruhan isi laporan ilmiah.

Fungsi Abstrak dalam Laporan PTK

cara menulis abstrak
Bagaimana cara menulis abstrak ptk?
Pada sebuah laporan hasil penelitian tindakan kelas (ptk), abstrak mempunyai fungsi yang sangat penting, yaitu:
  • Menyajikan informasi singkat tentang ptk yang telah anda dilakukan.
  • Memberikan kesan pertama setelah pembaca membaca judul (halaman judul) laporan ptk anda.
  • Memudahkan pembaca yang sedang mencari informasi tentang sebuah penelitian tindakan kelas, yaitu dengan membaca abstrak mereka hanya membutuhkan waktu yang singkat.

Karaketeristik Abstrak Laporan PTK

Ringkas

Sebuah abstrak ptk harusnya ringkas. Tidak bertele-tele, dan hanya memuat bagian-bagian esensial dari laporan ptk yang anda buat. Karena itu salah satu tata cara penulisan abstrak ptk yang harus dipatuhi adalah jumlah kata pada sebuah abstrak, maksimal 250 kata saja.

Jelas

Seharusnya, dengan membaca  abstrak laporan ptk anda pembaca sudah dapat mempunyai gambaran umum yang menyeluruh tentang penelitian tindakan kelas yang anda laporkan. Bila seorang pembaca yang selesai membaca abstrak sebuah laporan ptk masih belum punya gambaran tentang ptk yang anda lakukan, berarti abstrak yang anda tulis masih kurang jelas.

Berdiri Sendiri

Pada bagian abstrak yang anda tulis, tidak diperkenankan untuk menulis kalimat seperti: Lihat Lampiran 16, atau seperti ditunjukkan pada halaman 57, dan sejenisnya. Ini menunjukkan bahwa abstrak ptk yang anda tulis tidak berdiri sendiri. Sebuah abstrak seharusnya dapat dibaca dengan tanpa perlu membaca bagian-bagian lainnya darilaporan ptk anda. Ia adalah sebuah bagian mandiri yang merupakan ringkasan laporan ptk anda.

Objektif

Abstrak ptk yang anda tulis harus objektif. Ia adalah bagian penting dari sebuah karya tulis ilmiah. Sebagaimana Laporan aslinya, abstrak ptk juga harus ditulis objektif tanpa tujuan tertentu sehingga membuat pembaca mempunyai persepsi keliru tentang hasil penelitian tindakan kelas yang anda lakukan. Abstrak ptk anda harus ditulis sesuai fakta yang anda lakukan dan anda peroleh selama atau setelah melakukan penelitian tindakan kelas, dan bukan menuliskan asumsi atau pendapat pribadi anda tanpa ada dasar yang tepat.

Bagian-Bagian Abstrak PTK

  • Judu llaporan  penelitian tindakan kelas (ptk).
  • Nama peneliti (penulis), ditulis tanpa gelar akademis ataupun gelar non akademis.
  • Tahun penelitian dan jumlah halaman laporan keseluruhan.
  • Identitas singkat (seperti NIP, jabatan, dan asal instansi)
  • Isi abstrak yang mencakup: (1) tujuan ptk; (2) metode penelitian; (3) hasil penelitian; (4) simpulan.
  • Kata kunci (maksimal terdiri dari 5 kata kunci atau frase kunci yang diurutkan secara alfabetis)

Tata Cara Penulisan  Abstrak PTK

Jumlah kata

Hitung secara otomatis dengan menggunakan fasilitas  Word Count pada aplikasi Microsoft Word pada menu Review > Word Count. Abstrak hanya memuat maksimal 250 kata. Bila jumlah kata ternyata berlebih, edit dengan cara membuang kata-kata tertentu yang dapat dihilangkan, tetapi tidak mengurangi esensi dan makna kalimat dalam abstrak PTK yang anda buat.

Jarak spasi dan ukuran font

Abstrak selalu ditulis dalam jarak pengetikan 1 spasi. Bila anda menjumpai contoh abstrak dengan jarak lebih dari 1 spasi, itu adalah contoh yang salah. Jangan ditiru!
Gunakan huruf standar sebagaimana isi laporan ptk (misalnya Times New Roman dengan ukuran font 12 pt, atau Calibri ukuran 11 pt).

Berbentuk 1 paragraf yang rata kanan dan kiri (justify)

Pada beberapa institusi tertentu, abstrak laporan ptk acapkali diminta dalam bentuk 1 paragraf utuh. Jika tidak disertakan petunjuk bagaimana format abstrak ptk untuk laporan anda, tulislah dengan sebuah paragraf saja. Perhatikan pula, bahwa paragraf abstrak anda harus rata baik pada bagian kiri maupun bagian kanan (justify).

Ditulis sebelum Kata Pengantar, persis setelah Halaman Judul.

Letakkan abstrak ptk anda, yang mestinya hanya terdiri dari satu halaman tepat setelah Halaman Judul, sebelum Kata Pengantar. Jangan meletakkannya pada urutan yang salah. Abstrak ptk diletakkan demikian supaya pembaca laporan ptk anda segera menemukannya dengan mudah setelah membaca judul penelitian tindakan kelas anda pada halaman sampul.

Contoh Abstrak PTK


MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN UNTUK SISWA KELAS VIIIB SMPN NEGERI 4 AMUNTAI MELALUI STRATEGI MEMORY CYCLE
(Tahun 2011, 239 halaman)
Suhadi
Guru IPA SMP Negeri 4 Amuntai
Kabupaten Hulu Sungai Utara Propinsi Kalimantan Selatan
ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas secara umum bertujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran untuk peserta didik Kelas VIIIB SMPN 4 Amuntai. Secara khusus bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan aktivitas peserta didik; (2) Mendeskripsikan pengelolaan pembelajaran oleh guru; dan (3) Mengetahui hasil belajar peserta didik yang mengacu pada strategi memory cycle pada Kelas VIIIB SMPN 4 Amuntai semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012 untuk materi Bahan Kimia dalam Kehidupan Sehar-hari. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, di mana masing-masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Siklus I terdiri dari dua pertemuan (dua kali tatap muka), demikian pula halnya dengan Siklus II. Data aktivitas peserta didik digali dengan Lembar Pengamatan Aktivitas Peserta Didik, data Pengelolaan Pembelajaran oleh Guru digali dengan Lembar Pengamatan Pengelolaan Pembelajaran, sedangkan data hasil belajar peserta didik digali dengan Tes Hasil Belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Aktivitas peserta didik kelas VIIIB SMP Negeri 4 Amuntai tahun pembelajaran 2011/2012 pada pembelajaran yang mengacu kepada strategi memory cycle pada materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari di siklus I maupun siklus 2 penelitian tindakan kelas ini berada pada kategori BAIK; (2) Pengelolaan pembelajaran oleh guru di kelas VIIIB SMP Negeri 4 Amuntai yang tahun pembelajaran 2011/2012 yang telah dilakukan guru pada materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari dengan strategi memory cycle di siklus 1 maupun siklus 2 penelitian tindakan kelas ini juga berada pada kategori BAIK; dan (3) Hasil belajar peserta didik kelas VIIIB SMP Negeri 4 Amuntai tahun pembelajaran 2011/2012 pada materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari mengalami peningkatan dibanding tahun pelajaran 2010/2011 setelah menggunakan strategi memory cycle.
Kata Kunci : bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari, kualitas pembelajaran, penelitian tindakan kelas, strategi memory cycle
Catatan: Sebenarnya tata cara penulisan di atas juga dapat diberlakukan untuk abstrak skripsi,tesis, atau jurnal penelitian lainnya.

Langkah-Langkah Menulis PTK

Tulisan kali ini sebenarnya lebih bersifat umum (general) tentang bagaimana langkah-langkah yang dapat dilakukan seorang guru atau mahasiswa calon guru untuk menulis sebuah laporan penelitian tindakan kelas. Berikut langkah-langkah yang dimaksud:

Pengembangan Gagasan

Sebagaimana tulisan lain, proposal atau laporan ptk (penelitian tindakan kelas) juga ditulis berdasarkan adanya gagasan (ide). Gagasan atau ide tentang ptk atau penelitian tindakan kelas dapat diperoleh oleh seorang guru atau mahasiswa calon guru ketika membaca suatu literatur dan mengkoneksikan dengan permasalahan yang terjadi di dalam kelasnya. Atau sebaliknya, ketika merasa ada suatu masalah dalam pembelajaran di kelasnya, seorang guru akan mencoba mencari tahu lewat referensi-referensi tertentu tentang bagaimana kemungkinan yang dapat diambil untuk memecahkan masalah tersebut. Nah, dari adanya masalah dan strategi pemecahan masalah yang mungkin dipilih inilah gagasan penulisan proposal atau leporan penelitian tindakan kelas (ptk) dapat dikembangkan.

Merencanakan Naskah

Naskah proposal atau laporan ptk perlu direncanakan terkait untuk tujuan apa ditulis, bila kita melakukan sebuah penelitian tindakan kelas untuk mengikuti suatu lomba, maka perlu direncanakan naskah yang ditulis harus sesuai dengan format-format tertentu yang biasanya diminta oleh penyelenggara. Jika kita menulis ptk hanya untuk memperoleh angka kredit kenaikan pangkat, maka format penulisan mungkin dapat sedikit lebih bebas, tetapi tetap dalam koridor tulisan ilmiah bentuk laporan. Kita juga dapat merencanakan sedari awal, berapa halaman yang akan kita tulis, dan lampiran-lampiran apa saja yang nantinya perlu kita siapkan untuk dimasukkan sebagai bahan proposal atau laporan ptk tersebut.

Mengembangkan paragraf dan penulisan draft

Setelah naskah direncanakan dengan baik hingga ke bab-bab dan subbab-subbab apa yang akan kita tulis, maka langkah selanjutnya adalah menulisan pokok-pokok pikiran dari setiap bagian itu sehingga proposal atau laporan ptk kita secara menyeluruh mempunyai kerangka yang utuh dan sinambung. Pokok-pokok pikiran dari setiap bagian bab dan subbab selanjutnya perlu dikembangkan sehingga terbentuk paragraf-paragraf yang saling anyam membentuk kesatuan utuh, tidak kontradiktif antara satu bagian dengan bagian lainnya. Dan tentu saja tetap bersifat ilmiah, yang dapat terlihat dari pemilihan kata-kata atau literatur yang digunakan saat pengembangan paragraf-paragraf dari setiap bagian proposal atau laporan ptk itu.

Meminta masukan teman sejawat

Draft yang telah kita kembangkan berdasarkan pokok-pokok pikiran yang menjelma menjadi paragraf-paragraf tadi selanjutnya perlu dibaca oleh orang lain. Orang yang paling tepat untuk membaca adalah teman sejawat anda, atau ahli di bidang penelitian tindakan kelas, atau praktisi pendidikan. Meminta masukan dari mereka sangat penting untuk mengecek adakah anda berbeda pendapat dengan mereka? kenapa ada perbedaan pendapat? Apakah ada hal-hal penting lain pada aspek-aspek tertentu di penelitian anda yang belum terpikirkan sama sekali oleh anda dan penting untuk dimasukkan sebagai elemen tulisan anda? Atau bahkah anda memerlukan kritikan dari mereka.

Memperbaiki draft

Setelah mempertimbangkan saran-saran dari orang lain yang telah membaca proposal atau laporan penelitian tindakan kelas anda, maka langkah berikutnya adalah memperbaiki draft awal tersebut sehingga akan lebih menyempurnakannya. Tidak ada tulisan (dalam bentuk apapun termasuk karya ilmiah berupa ptk) yang sekali tulis langsung jadi. Semuanya memerlukan revisi, revisi, dan revisi.

Sentuhan akhir

Setelah tulisan berupa laporan atau proposal penelitian tindakan kelas anda ditulis dengan lengkap, dengan memerhatikan masukan-masukan dari orang-orang yang telah anda pilih, maka langkah terakhir adalah sentuhan akhir. Pada langkah terakhir ini, anda perlu menuliskan halaman-halaman tambahan yang perlu dan harus dimasukkan ke dala tulisan anda, misalnya kata pengantar, halaman persembahan, dan halaman-halaman lain yang mungkin ingin anda sisipkan. Selain itu, sekali lagi anda harus mengecek tata penulisan agar sesuai dengan eyd (ejaan yang disempurnakan), karena proposal atau laporan ptk yang anda buat adalah tulisan ilmiah yang harus menggunakan bahasa baku dan tata penulisan yang baik dan benar.

Pada sebuah proposal atau laporan PTK kita dapat memasukkan subbab Kerangka Berpikir. Biasanya subbab ini diletakkan pada bagian akhir bab II (Kajian Teori / Tinjauan Pustaka). Pertanyaannya sekarang: Bagaimana cara menyusun / menuliskannya pada proposal PTK atau laporan PTK anda?


Kerangka berpikir adalah alur berpikir yang disusun secara singkat untuk menjelaskan bagaimana sebuah penelitian tindakan kelas dilakukan dari awal , proses pelaksanaan, hingga akhir. Kerangka berpikir dapat disusun dalam bentuk kalimat-kalimat atau digambarkan sebagai sebuah diagram. Berikut ini akan disampaikan langkah-langkah praktis bagaimana menulis Kerangka Berpikir pada sebuah proposal atau laporan penelitian tindakan kelas (PTK). Mari disimak.

Cara Menulis Kerangka Berpikir dalam bentuk Rumusan Kalimat-Kalimat

  1. Rumuskan kondisi saat ini (sebelum PTK dilaksanakan), secara singkat.
  2. Rumuskan tindakan yang akan dilakukan, secara singkat.
  3. Rumuskan hasil akhir yang anda harapkan, juga secara singkat.
  4. Susun ketiga komponen di atas dalam sebuah paragraf yang padu.

Perhatikan contoh berikut:

Berdasarkan pengamatan di kelas, pembelajaran PKn  terasa monoton, menggunakan metode pembelajaran konvesional, sedangkan prestasi belajar PKn juga rendah. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD diharapkan dapat memecahkan masalah ini. Caranya adalah dengan melatih guru PKn, kemudian mengaplikasikannya secara kolaboratif dengan peneliti. Hasilnya, diharapkan proses pembelajaran di kelas tidak lagi monoton dan menggunakan metode pembelajaran konvensional, serta prestasi belajar PKn siswa juga akan meningkat.

Cara Menulis Kerangka Berpikir dalam Bentuk Diagram

  1. Rumuskan kondisi saat ini (sebelum PTK dilaksanakan), dalam bentuk poin-poin penting dengan singkat.
  2. Rumuskan poin-poin penting tindakan yang akan dilakukan, secara singkat.
  3. Rumuskan poin-poin hasil akhir yang anda harapkan, juga secara singkat.
  4. Rancang sebuah diagram yang memuat poin-poin tersebut dengan alur yang rasional dan jelas.

Perhatikan contoh berikut:

Contoh Diagram Kerangka Berpikir pada Sebuah Proposal atau Laporan PTK (Penelitian Tindakan Kelas)
Contoh Diagram Kerangka Berpikir pada Sebuah Proposal atau Laporan PTK (Penelitian Tindakan Kelas)

Catatan:
Penelitian tindakan kelas ini adalah PTK kolaboratif antara seorang peneliti dengan guru PKn
Contoh ini diadaptasi dari buku Manajemen Penelitian Tindakan Kelas (Sukidin, Basrowi, Suranto) yang diterbitkan oleh Insan Cendekia pada tahun 2008.

Demikian tulisan terbaru blog penelitian tindakan kelas tentang Cara Menulis Kerangka Berpikir pada Proposal atau laporan PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Semoga bermanfaat. Salam.

Lembar Observasi PTK Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing

Sintaks Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guided Discovery)

Seperti contoh yang lalu, sebelumnya kita harus memiliki informasi tentang hal-hal apa yang harus dilakukan oleh guru selama melaksanakan pembelajaran penemuan terbimbing. Berikut beberapa informasi yang mungkin dapat kita peroleh dari berbagai literatur menegenai sintaks pembelajaran penemuan terbimbing:

Tahap 1. Pendahuluan (Orientasi siswa pada masalah).

Pada tahap ini guru memotivasi siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran, dan menggali pengetahuan awal siswa (melakukan apersepsi).

Tahap 2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar.

Pada tahap kedua ini guru harus mengajukan suatu permasalahan, dan menjelaskan langkah-langkah kegiatan penyelidikan/pengamatan atau diskusi.

Tahap 3. Memberi bantuan dalam penyelidikan secara mandiri atau kelompok bersama.

Pada tahap ini guru membimbing siswa untuk melakukan kegiatan penyelidikan dan diskusi untuk memperoleh informasi yang diperlukan.

Tahap 4. Mengembangkan dan mempresentasikan hasil kegiatan.

Di tahapan yang keempat pada sintaks pembelajaran penemuan terbimbing ini guru membimbing siswa untuk mempresentasikan hasil penyelidikan/pengamatan dan diskusi mereka hingga merumuskan simpulan.

Tahap 5. Penutup (Mengevaluasi kegiatan penyelidikan/pengamatan dan membuat rangkuman).

Pada tahap kelima ini guru mengevaluasi kegiatan penyelidikan/pengamatan, membimbing siswa membuat rangkuman dan memberikan tugas mandiri.

Lembar Observasi


Nah, dari kajian  tentang sintaks pembelajaran dengan penemuan terbimbing itu kita dapat membuat Lembar Observasi Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran Penemuan Terbimbing, caranya dengan menjadikan langkah-langkah tersebut, beserta sub-sub langkah menjadi aspek-aspek yang diamati/diobservasi. Hasil akhirnya..... Lembar  Observasi Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran Penemuan Terbimbing akan menjadi seperti gambar ini.
Contoh Lembar Observasi Pengelolaan Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guided Discovery)
Contoh Lembar Observasi Pengelolaan Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guided Discovery)


Untuk lebih jelasnya, anda dapat mendownload Lembar Observasi Pengelolaan Pembelajaran Penemuan Terbimbing ini dengan mengklik link yang disediakan. Selain itu kami tambahkan pula Contoh Lembar Observasi Aktivitas Siswa pada Pembelajaran Penemuan Terbimbing. Semoga tulisan kali ini dapat bermanfaat bagi anda yang sedang melakukan penelitian tindakan kelas (ptk) tentang pembelajaran penemuan terbimbing.

Beberapa waktu yang lalu di blog http://sumbermediaguru.blogspot.com/ ini telah disajikan bagaimana cara membuat lembar observasi ptk. Kali ini kembali subjek ini akan dibahas, karena pada kenyataannya banyak peneliti dalam hal ini guru atau mahasiswa saat mengembangkan atau membuat lembar observasi untuk penelitian tindakan kelas yang digenjotnya masih kurang fokus pada tujuan penelitian, alias lembar observasi yang dibuatnya belum atau kurang menjaring data sesuai dengan tujuan penelitiannya. Hal ini dikarenakan kebanyakan mereka cenderung lebih suka menggunakan lembar observasi ptk yang dibuat oleh orang lain (peneliti sebelumnya). Aspek orisinalitas juga menjadi isu penting bila seorang peneliti hanya menggunakan lembar observasi yang digunakan oleh lain, apalagi penelitian tindakan kelas yang dilakukannya mempunyai tujuan ptk yang notabene berbeda dengan tujuan ptk orang yang dicontohnya itu.

Lembar Observasi PTK dan Orisinalitas Karya Tulis


Jadi, sebaiknya kami menyarankan guru yang sedang melakukan ptk mengembangkan sendiri instrumen penelitian yang dibutuhkannya, termasuk lembar observasi ptk-nya. Mengembangkan sendiri lembar observasi ptk itu gampang-gampang susah. Gampang kalau kita memahami teknik pembuatannya dan memahami apa yang sedang / ingin kita teliti. Saya yakin, jika anda berkeinginan meneliti suatu hal lewat ptk, anda pasti telah mencoba memahami kedua hal tersebut di atas yang merupakan prasyarat anda dapat mengembangkan sebuah lembar observasi ptk.

Membuat Lembar Observasi PTK Itu Mudah


Baiklah,untuk lebih meyakinkan anda bahwa mengembangkan lembar observasi ptk itu gampang, berikut kami beri contoh sebuah lembar observasi ptk dan bagaimana lembar observasi ptk itu dikembangkan. Yuk simak. Anggaplah kita sudah punya teori/kepustakaan yang diperlukan untuk mengembangkan sebuah lembar observasi ptk tentang model pembelajaran problem posing pada mata pelajaran matematika, seperti berikut.

Teori tentang Model Pembelajaran Problem Posing dalam Matematika

Model pembelajaran problem posing dapat didefinisikan sebagai model pembelajaran di mana siswa berperan aktif dalam pengajuan soal atau pengajuan masalah (berlatih soal) secara mandiri.

Beberapa kekuatan model pembelajaran problem posing adalah: (1) siswa akan mempunyai kemampuan memecahkan masalah dengan mengusahakan berbagai jalan dengan latihan yang mereka lakukan; (2) terampil menyelesaikan soal-soal terkait materi yang sedang dibelajarkan; (3) guru dapat mengetahui bagaimana proses siswa menyelesaikan masalah; (4) meningkatkan keterampilan pengajuan masalah (soal) oleh siswa; (5) menumbuhkan minat siswa terhadap pembelajaran matematika; (6) memunculkan perasaan puas ketika suatu kelompok mampu membuat soal dan menyelesaikannya, tetapi kelompok lain tidak sanggup menyelesaikannya, ini akan mendorong pula kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Beberapa kelemahan model pembelajaran problem posing misalnya diperlukan banyak sumber untuk pembuatan soal (pengajuan masalah) bagi setiap kelompok yang berimplikasi diperlukannya buku-buku teks yang relevan untuk semua siswa.

Sintaks Model Pembelajaran Problem Posing:

  1. Guru menjelaskan materi pembelajaran kepada siswa 
  2. Guru memberikan latihan soal secukupnya 
  3. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen terdiri atas 4 – 5 orang siswa 
  4. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal berdasarkan informasi (penjelasan) yang telah diberikan guru dan siswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikan soal-soal tersebut 
  5. Soal-soal tersebut diserahkan kepada kelompok lain untuk dikerjakan (setiap kelompok mendapat soal-soal yang diajukan oleh kelompok lain) 
  6. Guru memberikan tugas rumah secara individual sebagai penguatan

Langkah berikutnya adalah memasukkan poin-poin penting itu dalam lembar observasi ptk yang kita kembangkan, misalnya kita ingin membuat lembar observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika menggunakan model problem posing, maka hasil pengembangannya adalah:


Aktivitas Siswa Secara Umum:
1.  menunjukkan berbagai strategi memecahkan masalah / soal
2. terampil menyelesaikan soal-soal yang diberikan
3. menunjukkan proses yang efisien dalam menyelesaikan masalah / soal
4. menunjukkan antusiasme / minat terhadap kegiatan pembelajaran dengan pengajuan masalah / soal

Aktivitas siswa secara khusus:
1. memperhatikan penjelasan guru terkait materi pelajaran pada sesi awal pembelajaran
2. mengerjakan latihan soal yang diberikan oleh guru pada sesi awal pembelajaran
3. bekerja dalam kelompok untuk membuat soal / pengajuan masalah
4. bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan soal yang dibuat oleh kelompoknya sendiri
5. mengajukan soal / masalah kepada kelompok lain
6. bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan soal / masalah yang diajukan oleh kelompok lain
7. menyelesaikan soal-soal penguatan dari guru secara individual


Nah, dari hasil pengembangan poin-poin penting terkait aktivitas siswa pada model pembelajaran problem posing untuk mata pelajaran matematika di atas, maka kita tinggal menambahkan atribut-atribut lain untuk melengkapinya sebagai sebuah instrumen penggali data, dalam hal ini lembar observasi ptk (penelitian tindakan kelas) untuk mengamati aktivitas siswa. Atribut-atribut lain yang ditambahkan misalnya identitas penelitian meliputi kelas, nama guru, hari/tanggal, sekolah, pertemuan ke, dan siklus ke, juga dapat ditambahkan dengan petunjuk penggunaan untuk observer, pedoman penskoran, dan tanda tangan observer. Berikut hasil akhirnya:

Contoh Lembar Obsevasi Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Problem Posing 

=== *** ===

LEMBAR OBSERVASI
AKTIVITAS SISWA DALAM MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING

Kelas :
Nama Guru :
Hari/tanggal:
Sekolah :
Pertemuan ke- :
Siklus ke- :


Petunjuk:
Observer aktivitas siswa dalam pembelajaran problem posing duduk di tempat yang strategis, yang memudahkan observasi dan tidak mengganggu jalannya pembelajaran. Observer mengisi kolom penskoran sesuai pedoman penskoran yang diberikan di bawah tabel dengan memberi tanda cek (v).Aktivitas siswa secara umum:

No. Aktivitas Siswa 1 2 3 4 5
A Umum --- --- --- --- ---
1. menunjukkan berbagai strategi memecahkan masalah / soal - - - - -
2. terampil menyelesaikan soal-soal yang diberikan - - - - -
3. menunjukkan proses yang efisien dalam menyelesaikan masalah / soal - - - - -
4. menunjukkan antusiasme / minat terhadap kegiatan pembelajaran dengan pengajuan masalah / soal - - - - -
B. Khusus - - - - -
1. memperhatikan penjelasan guru terkait materi pelajaran pada sesi awal pembelajaran - - - - -
2. mengerjakan latihan soal yang diberikan oleh guru pada sesi awal pembelajaran - - - - -
3. bekerja dalam kelompok untuk membuat soal / pengajuan masalah - - - - -
4. bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan soal yang dibuat oleh kelompoknya sendiri - - - - -
5. mengajukan soal / masalah kepada kelompok lain - - - - -
6. bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan soal / masalah yang diajukan oleh kelompok lain - - - - -
7. menyelesaikan soal-soal penguatan dari guru secara individual - - - - -

Pedoman Penskoran:
1 = sangat kurang
2 = kurang
3 = cukup
4 = baik
5 = sangat baik


Banjarmasin, ......................
Observer,
 ...........................
NIP.

===*** ==
Nah, gampang bukan?


 

Kita mungkin sudah sering mendengar kata penelitian, yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris : Research. Bagi sebagian mahasiswa, terutama mereka yang mengambil program sarjana, penelitian merupakan kegiatan puncak dari studi. Para mahasiswa dituntut untuk mengembangkan wawasannya dengan cara melakukan pencarian atau eksplorasi untuk menemukan jawaban dari masalah yang menjadi bidang kajiannya. Untuk melakukan kegiatan tersebut ada seperangkat aturan dan langkah-langkah yang harus diikuti yang biasa sebut metode penelitian.

Bertitik tolak dari pengertian di atas, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan suatu penelitian juga yang biasa dikerjakan oleh seorang Guru, salah satunya adalah Guru SD yang mempunyai berbagai aturan dan langkah-langkah yang harus diikuti. Penelitian Tindakan Kelas merupakan terjemahan dari
Classroom Action Research, yaitu satu Action Research yang dilakukan di kelas.

Makna Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dari
segi semantik (arti kata) Action Research diterjemahkan menjadi penelitian tindakan yang oleh Carr dan Kemmis (McNiff, 1991, p.2) didefinisikan sebagai berikut :

"Action research is a form of self-reflective enquiry undertaken by participants (Teachers, students or principals, for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (1) their own social or educational pratices, (2) their understanding of these practices, and (3) the situations (and institutioans) in which the practices are carried out"
yang jika kita cermati seksama ada sejumlah ide pokok antara lain :

  1. Penelitian tindakan adalah satu bentuk inquiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri.
  2. Penelitian tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti Guru, siswa atau Kepala sekolah.
  3. Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan.
  4. Tujuan penelitian tindakan adalah memperbaiki : dasar pemikiran dan kepantasan dari praktik-praktik, pemahaman terhadap praktik tersbut, serta situasi atau lembaga tempat praktik tersebut dilaksanakan.
Mills (2000) mendefinisikan penelitian tindakan sebagai "systematic inquiry" yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah, atau konselor sekolah untuk mengumpulkan informasi tentang berbagai praktik yang dilakukannya. Informasi ini digunakan untuk meningkatkan persepsi serta mengembangkan "reflective practice" yang berdampak positif dalam praktik persekolahan, termasuk memperbaiki hasil belajar siswa. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru, dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untukmemperbaiki kinerjannya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat lebih baik dari sebelumnya. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sangat bermanfaat bagi guru, pembelajaran siswa, serta bagi sekolah.
Manfaat PTK bagi guru adalah :
  1. Membantu guru memperbaiki pembelajaran.
  2. Membantu guru berkembang secara profesional.
  3. Meningkatkan rasa percaya diri seorang Guru.
  4. Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan.
Manfaat PTK bagi pembelajaran siswa yaitu untuk meningkatkan proses/hasil belajar siswa, disamping guru melaksanakan PTK, guru dapat menjadi model/contoh para siswa dalam bersikap kritis terhadap hasil belajarnya.
Manfaat PTK bagi sekolah yaitu untuk membantu sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan/kemajuan pada diri guru dan pendidikan di sekolah tersebut.
Disamping manfaat, PTK mempunyai keterbatasan, yaitu validitasnya yang sering masih dipertanyakan, serta tidak mungkin melakukan generalisasi karena sampelnya hanya kelas dari guru yang berperan sebagai pengajar dan peneliti. PTK memerlukan berbagai kondisi agar dapat berlangsung dengan baik dan melembaga. Kondisi tersebut antara lain dukungan dari semua personil di sekolah, iklim yang terbuka yang memberikan kebebasan kepada guru untuk berinovasi, berdiskusi, berkolaborasi, dan saling percaya antara guru dan siswa.

Setelah memahami pengertian dan karakteristik PTK pada tulisan sebelumnya tentu kita akan bertanya:”Apa sebenarnya tujuan melakukan penelitian tindakan kelas?” Apabila kita mengacu pada pembahasan sebelumnya mengenai pengertian dan karakteristik PTK maka tujuan paling inti dari penelitian tindakan kelas adalah untuk peningkatan dan perbaikan praktik pembelajaran.
Menurut Mohammad Asrori (2007:13) tujuan PTK ini dapat dicapai dengan cara melakukan berbagai tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan pembelajaran yang selama ini dihadapi, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Oleh karena itu fokus utama penelitian tindakan kelas adalah terletak kepada tindakan-tindakan alternatif yang dirancang oleh guru kemudian di cobakan, dan dievaluasi untuk mengetahui efektivitas tindakan-tindakan alternatif itu dalam memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru.
 Jika perbaikan dan peningkatan layanan pembelajaran dapat terwujud dengan baik berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, menurut Suyanto (1999) ada tujuan penyerta yang juga tercapai sekaligus dalam kegiatan penelitian itu. Tujuan penyerta yang dapat dicapai adalah terjadinya proses latihan dalam jabatan oleh guru selama proses penelitian tindakan kelas dilakukan.
Dalam konteks pengalaman latihan guru ini Borg (1996) menegaskan bahwa tujuan utama penelitian tindakan adalah pengembangan keterampilan guru berdasarkan persoalan-persoalan pembelajaran yang dihadapi guru di kelasnya sendiri, dan bukannya bertujuan untuk pencapaian pengetahuan umum dalam bidang pendidikan.
Dalam konteks tujuan penelitian tindakan kelas ini ada beberapa pendapat yang penulis kutip dari bebagai sumber yaitu sebagai berikut ini: 
1.      Suhadjono (2007:61) mengatakan bahwa tujuan penelitian tindakan kelas itu adalah : 
  •  Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran disekolah
  • Membantu guru dan tenaga kekependidikan lainnya mengatasai masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam kelas.
  • Meningkatkan sikap professional pendidik dan tenaga kependidikan
  • Menumbuh-kembangkan budaya akademik dilingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjuta (sustainable)
2.    Menurut I Wayan Santyasa (2007) tujuan PTK dapat digolongkan atas dua jenis, tujuan utama dan tujuan sertaan. Tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut.
  • Tujuan utama pertama, melakukan perbaikan dan peningkatan layanan professional Guru dalam menangani proses pembelajaran. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis kondisi, kemudian mencoba secara sistematis berbagai model pembelajaran alternatif yang diyakini secara teoretis dan praktis dapat memecahkan masalah pembelajaran. Dengan kata lain, guru melakukan perencanaan, melaksanakan tindakan, melakukan evaluasi, dan refleksi. 
  • Tujuan utama kedua, melakukan pengembangan keteranpilan Guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai persoalan aktual yang dihadapinya terkait dengan pembelajaran. Tujuan ini dilandasi oleh tiga hal penting, (1) kebutuhan pelaksanaan tumbuh dari Guru sendiri, bukan karena ditugaskan oleh kepala sekolah, (2) proses latihan terjadi secara hand-on dan mind-on, tidak dalam situasi artifisial, (3) produknyas adalah sebuah nilai, karena keilmiahan segi pelaksanaan akan didukung oleh lingkungan. 
  • Tujuan sertaan, menumbuh kembangkan budaya meneliti di kalangan Guru.
3.     Menurut Kasihani, (1999) tujuan Penelitian tindakan kelas adalah :
  • Meningkatkan dan memperbaiki praktek pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru, mengingat masyarakat kita berkembang begitu cepat. Hal ini akan berakibat terhadap meningkatnya tuntutan layanan pendidikan yang harus dilakukan oleh guru. PTK merupakan cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan atau memperbaiki layanan tersebut. 
  • Meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan atau perbaikan praktek pembelajaran di kelas hanya tujuan antara, sedangkan tujuan akhir adalah peningkatan mutu pendidikan. Misal, terjadi peningkatan motivasi siswa dalam belajar, meningkatnya sikap positif siswa terhadap mata pelajaran, bertambahnya keterampilan yang dikuasai, adalah merupakan beberapa contoh dari tujuan antara sebagai hasil jangka pendek dari peningkatan praktek pembelajaran di kelas. Sasaran akhirnya adalah meningkatnya mutu pendidikan. 
  • Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif untuk memperbaiki pembelajaran, berdasar pada persoalan-persoalan pembelajaran yang dihadapi guru di kelas.
4.   Menurut Ditjen PMPTK (2010:7) Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan melalui tindakan yang akan dilakukan. PTK juga bertujuan untuk meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesinya. Tujuan khusus PTK adalah untuk mengatasi berbagai persoalan nyata guna memperbaiki atau meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas. Secara lebih rinci tujuan PTK antara lain:
  • Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
  • Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas. 
  •  Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan. 
  • Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan/pembelajaran secara berkelanjutan.
Mengacu pada tujuan penelitian tindakan kelas diatas maka Output atau hasil yang diharapkan melalui PTK adalah peningkatan atau perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang meliputi hal-hal sebagai berikut.
a.   Peningkatan atau perbaikan kinerja siswa di sekolah.
b.  Peningkatan atau perbaikan mutu proses pembelajaran di kelas.
c.  Peningkatan atau perbaikan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainya.
d. Peningkatan atau perbaikan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa.
e. Peningkatan atau perbaikan masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.
f. Peningkatan dan perbaikan kualitas dalam penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa (Mohammad Asrori, 2007:14)
        Beberapa alasan mengapa guru dipandang tepat untuk melakukan penelitian tindakan kelas adalah : 
  1. Guru adalah orang yang paling dekat dan paling akrab dengan kelas. Paling karab karena gurulah yang setiap hari melaksanakan proses pembelajaran di kelas
  2. Guru memiliki otonomi untuk menilai kinerjanya sendiri. 
  3. Interaksi guru dan siswa berlangsung secara unik. Dikatakan unik karena ketika siswa berinteraksi dengan guru tidak akan sama dengan ketika siswa berinteraksi dengan personal sekolah lainnya.
  4. Temuan-temuan penelitian  yang bukan penelitian tindakan kelas tidak jarang sulit bisa langsung diterapkan untuk proses perbaikan pembelajaran. Kadang-kadang temuan penelitian itu terlalu teoritik atau terlalu rumit sehingga guru harus belajar terlebih dahulu atau dilatih terlebih dahulu untuk bisa menerapkan dalam proses pembelajaran di kelas. 
  5. Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan inovatif yang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru untuk mampu melakukan penelitian tindakan kelas.
Sumber :
  1. Mohommad Ashori (2007), Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : CV Wacana Prima. 
  2. Suyanto. 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pengenalan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Dirjen Dikti 
  3.  Borg, W.R. Gall,M.D(1997). Education Research. New York : Longman. 
  4.  Suhardjono (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara
  5. Kasbolah, Kasihani. (1991). Penelitian Tindakan Kelas: Guru sebagai Peneliti. Makalah disajikan dalam Lokakarya PTK Bagi Guru SLTP, MTs, SMU, MA dan SMK se-Kodya Malang. Malang: IKIP.
  6. I Wayan Santyasa (2007). Makalah : Metodologi Penelitian Tindakan Kelas. Disajikan dalam Workshop tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi Para Guru SMP 2 dan 5 Nusa Penida Klungkung, pada tanggal 30 Nopember s.d 1 Desember 2007 di Nusa Penida. Singajara: UP. Ganesha.
  7. Ditjen PMPTK.(2010).Membimbing Guru Dalam Penelitian Tindakan Kelas Materi Pelatihan Penguatan  Pengawas Sekolah. Jakarta : Kemendiknas.